Resume Materi PKKMB Hari 2

 

Perguruan Tinggi Di Era Digital dan Revolusi Industri

Ainun Najib Ahli IT Indonesia

Perguruan tinggi di era digital dan revolusi industri 4.0 mengalami transformasi besar dalam berbagai aspek, mulai dari sistem pembelajaran, kurikulum, hingga cara berinteraksi dengan mahasiswa dan masyarakat. Pemanfaatan e-learning, MOOC, dan webinar membuat proses belajar menjadi lebih fleksibel, inklusif, dan dapat diakses kapan saja serta di mana saja. Di sisi lain, teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan, big data, dan Internet of Things (IoT) mulai terintegrasi ke dalam kurikulum, bahkan melahirkan program studi baru yang relevan dengan kebutuhan industri modern. Perguruan tinggi juga menyesuaikan diri untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan otomasi, robotika, serta analitik data, dengan tetap menekankan pentingnya soft skills seperti kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah. Perubahan ini turut ditunjang oleh pengembangan infrastruktur digital, meliputi jaringan internet berkecepatan tinggi, laboratorium virtual, hingga perangkat lunak kolaboratif yang mendukung proses belajar dan riset. Selain itu, kemitraan global dengan institusi internasional, perusahaan teknologi, maupun startup menjadi peluang besar untuk inovasi bersama, riset kolaboratif, serta program pertukaran mahasiswa dan dosen. Perguruan tinggi juga memanfaatkan learning analytics untuk memantau perkembangan mahasiswa secara lebih akurat serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data dalam pengelolaan kampus. Pada akhirnya, peran perguruan tinggi tidak hanya sebatas penyelenggara pendidikan, melainkan juga sebagai pusat riset, inovasi, dan pengembangan startup berbasis teknologi yang mampu mencetak lulusan kompeten, adaptif, serta siap bersaing di tengah dinamika global yang terus berubah.


Generasi Muda Berintegritas Anti Korupsi

Prof. Dr. Haryono Umar, SE., Ak., M.Sc., CA 

Korupsi adalah kanker yang merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa karena merampas hak rakyat, menghambat pembangunan, serta menghancurkan kepercayaan publik. Upaya melawannya bukan hanya tugas aparat atau pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh rakyat Indonesia. Di sinilah generasi muda memegang peran penting sebagai harapan bangsa. Dengan energi, kreativitas, idealisme, serta penguasaan teknologi, mereka dapat menciptakan sistem yang lebih transparan, melakukan pengawasan, sekaligus menghadirkan solusi inovatif untuk mencegah praktik korupsi. Integritas harus menjadi senjata utama yang tercermin dari kejujuran, konsistensi, tanggung jawab, keadilan, keberanian, dan kemandirian dalam setiap tindakan. Peran itu bisa diwujudkan mulai dari hal kecil seperti jujur dalam ujian, menolak pungutan liar, hingga berani melaporkan penyimpangan. Selain itu, generasi muda juga bisa memanfaatkan media sosial untuk edukasi, ikut organisasi atau komunitas antikorupsi, serta aktif dalam forum pembangunan agar suara masyarakat tersalurkan dengan benar. Meski tantangan seperti budaya koneksi, tekanan ekonomi, atau rasa takut melapor masih ada, generasi muda harus berani menjadi teladan melalui prestasi dan karya tanpa korupsi. Dengan tekad dan integritas yang kuat, mereka dapat menjadi garda terdepan dalam mewujudkan Indonesia yang bersih, transparan, dan bebas dari korupsi.


Mencetak Mahasiswa Unusa sebagai generasi Aswaja An-Nahdliyah

KH Ma'ruf Khozin - PWNU Jatim

Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) memiliki posisi penting sebagai penerus tradisi keilmuan dan keagamaan Aswaja An-Nahdliyah. Hal ini karena UNUSA berdiri atas dasar nilai-nilai NU, organisasi Islam terbesar di Indonesia yang berpegang pada prinsip moderasi (tawassuth), keseimbangan (tawazun), toleransi (tasamuh), serta orientasi pada kemaslahatan (ishlah). Paham Aswaja sendiri merujuk pada ajaran Ahlusunnah wal Jama’ah yang berpijak pada Al-Qur’an, Hadis, Ijma’ Ulama, dan Qiyas, serta menghormati keberagaman mazhab.

Dalam perannya, mahasiswa UNUSA dididik untuk menjadi penjaga tradisi keilmuan NU melalui kajian kitab kuning yang dikontekstualkan dengan realitas modern, sekaligus menjadi agen moderasi beragama yang menolak radikalisme dan menyebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin. Mereka juga diarahkan untuk menjadi pejuang kemaslahatan sosial, misalnya melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat dan advokasi isu kemanusiaan. Selain itu, mahasiswa UNUSA dituntut menjadi inovator yang mampu mengintegrasikan nilai Aswaja dengan perkembangan teknologi, budaya, maupun tantangan zaman.

Implementasi nilai-nilai tersebut tampak jelas di kampus UNUSA, baik dalam kurikulum yang mewajibkan mata kuliah Ke-NU-an dan Aswaja An-Nahdliyah, maupun dalam kegiatan kemahasiswaan seperti majelis taklim, organisasi mahasiswa (PMII, IPNU/IPPNU), hingga festival budaya NU. Kolaborasi dengan lembaga NU pun menjadi ruang aktualisasi mahasiswa dalam kegiatan sosial, dakwah, dan kebudayaan. Namun, tantangan besar juga menanti. Globalisasi dan radikalisme transnasional menguji identitas Aswaja, disrupsi digital menuntut kehadiran narasi moderat di ruang maya, sementara generasi muda harus membuktikan bahwa Aswaja tetap relevan sebagai solusi bagi persoalan modern, bukan sekadar peninggalan masa lalu.


Pengenalan Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3L) Dan Perwujudan Indonesia Emas

Muslikha Nourma Rhomadhoni, S.KM., M.Kes

K3L atau Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan merupakan pendekatan terpadu dalam mengelola risiko di tempat kerja sekaligus melindungi lingkungan. Aspek keselamatan menekankan pencegahan kecelakaan dan perlindungan pekerja dari bahaya fisik, sementara kesehatan kerja berfokus pada pencegahan penyakit akibat kerja serta peningkatan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial. Di sisi lain, aspek lingkungan mengatur pengelolaan limbah, efisiensi energi, serta pelestarian sumber daya alam agar aktivitas industri tidak merusak ekosistem. Prinsip utama K3L meliputi pencegahan, keterlibatan semua pihak, kepatuhan terhadap aturan, peningkatan berkelanjutan, dan akuntabilitas setiap level organisasi.

Dalam konteks Indonesia Emas 2045, K3L menjadi fondasi penting untuk mewujudkan SDM unggul dan sehat, karena pekerja yang aman dan terlindungi akan lebih produktif, termotivasi, serta loyal terhadap pekerjaannya. Di sisi ekonomi, penerapan K3L mampu meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi kerugian akibat kecelakaan, sekaligus memperkuat daya saing global karena standar K3L kini menjadi tuntutan pasar internasional. Prinsip ini juga mendorong inovasi ramah lingkungan yang sejalan dengan pembangunan berkelanjutan. Selain itu, K3L memastikan keberlanjutan sumber daya alam, mengurangi dampak perubahan iklim, serta menciptakan lingkungan hidup yang lebih sehat bagi masyarakat luas. Dari segi tata kelola, penerapan K3L merupakan bentuk nyata perlindungan hak pekerja, kepatuhan hukum, dan upaya memperkecil ketimpangan sosial, termasuk perlindungan bagi sektor informal dan UMKM yang rentan.

Meski demikian, implementasi K3L di Indonesia masih menghadapi tantangan, seperti kurangnya pemahaman, lemahnya pengawasan, keterbatasan sumber daya, hingga budaya K3L yang belum sepenuhnya mengakar. Untuk itu, langkah strategis perlu dilakukan secara kolaboratif, baik oleh pemerintah yang memperkuat regulasi dan pengawasan, perusahaan yang menjadikan K3L sebagai investasi strategis, pekerja yang sadar akan hak dan kewajibannya, maupun institusi pendidikan yang menanamkan nilai K3L sejak dini. Dengan penerapan yang konsisten, K3L bukan hanya sekadar aturan teknis, melainkan investasi strategis jangka panjang. Ia menjadi kunci bagi lahirnya SDM unggul, pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing, kelestarian lingkungan, serta tata kelola yang adil. Tanpa K3L yang kokoh, visi Indonesia Emas 2045 akan sulit terwujud.



Lihat juga blog teman saya : Salsahbila Kurnia Azzahra

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resume Materi PKKMB Hari 1

Resume Peningkatan Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Melalui Edukasi PHBS dan Pemeriksaan Bakteri pada Tangan dan Air Sumur

Resume Materi 2 (PKKMB FAKULTAS)